Lebih lanjut, Siti menambahkan selama pekan pertama MPLS, peserta didik diperkenalkan berbagai program sekolah. Mulai dari pengenalan lingkungan sekolah, parade dan demonstrasi ekstrakurikuler, hingga pemetaan minat serta bakat melalui asesmen diagnostik akademik maupun nonakademik.
Selain itu, lanjutnya, sekolah juga memberikan edukasi tentang pencegahan perundungan kepada seluruh peserta didik, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan perundungan fisik, verbal, maupun cyberbullying.
“Nantinya, seluruh peserta didik akan deklarasi komitmen untuk tidak melakukan perundungan. Harapannya, budaya saling menghargai sudah tertanam sejak awal mereka berada di lingkungan sekolah,” jelasnya.
Sebagai sekolah full day, SDI Ramah Anak juga menerapkan masa adaptasi secara bertahap bagi peserta didik kelas 1. Pada minggu pertama, jelas Siti, jam belajar berlangsung hingga pukul 10.00, lalu bertambah menjadi pukul 12.00 pada minggu kedua, sebelum akhirnya mengikuti jadwal penuh pada minggu ketiga.
Dlaam hal ini, Siti menyebutkan, seluruh rangkaian MPLS mendapat respons positif dari peserta didik. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap kegiatan yang dikemas melalui permainan, diskusi, dan aktivitas interaktif.
“Kami tidak langsung mengajak anak belajar seperti di kelas. Mereka diajak bermain, membuat kesepakatan kelas, hingga menyusun aturan bersama agar merasa nyaman dan senang berada di sekolah,” tutupnya.
Red (CM)
www satelitnusantara.news