Selain itu, mahasiswa juga diminta menjaga nama baik almamater, menunjukkan kedisiplinan, serta memanfaatkan masa pengabdian sebagai sarana mengembangkan kepemimpinan dan kepedulian sosial.
Ade menegaskan bahwa setiap pengalaman selama KKN harus menjadi bekal untuk membentuk karakter, meningkatkan kompetensi, dan memperluas wawasan sehingga mampu memberikan kontribusi terbaik bagi pembangunan daerah, bangsa, dan negara.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Jujun Ratnasari, menjelaskan bahwa KKN merupakan bagian dari kurikulum wajib bagi mahasiswa semester enam yang bertujuan meningkatkan kemampuan bersosialisasi serta menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat.
Tahun ini, KKN diikuti oleh 720 mahasiswa yang terbagi ke dalam lima skema. Skema terbesar adalah One Village One Department (OVOD) dengan 438 peserta yang ditempatkan di enam kecamatan dan 22 desa di Kabupaten Sukabumi. Program tersebut berfokus pada pengelolaan sampah dan percepatan penanganan stunting.
Selain itu, terdapat KKN Sinergi yang berkolaborasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sukabumi dengan fokus mitigasi bencana di Kecamatan Warungkiara, KKN Kekhususan, KKN Muhammadiyah Aisyiyah di Kabupaten Malang, serta KKN Skema Internasional di Malaysia
Seluruh peserta juga didorong menghasilkan luaran berupa laporan akhir, siaran pers, dan video pengabdian yang akan dilombakan hingga tingkat provinsi.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Al-Islam Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Asep Muhamad Ramdan, mengingatkan bahwa KKN merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat, bukan sekadar menjalankan kegiatan akademik.
Ia mengajak seluruh mahasiswa untuk membangun kolaborasi dengan masyarakat serta mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Red (CM)
Sumber : IKP Diskominfosan
www.satelitnusantara.news