Menurut Ali, ide penyelenggaraan festival tersebut berangkat dari keberhasilan komunitas seni Palabuhanratu menggelar Hari Tari Dunia pada 29 April lalu. Antusiasme dan apresiasi masyarakat terhadap kegiatan itu kemudian mendorong munculnya gagasan untuk menghadirkannya kembali dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Sukabumi.
“Untuk Festival Palabuhanratu, berawal dari success story komunitas seni Palabuhanratu yang pada 29 April lalu melaksanakan Hari Tari Dunia. Kegiatan itu mendapat apresiasi luar biasa, sehingga diusulkan kembali dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Sukabumi,” jelasnya.
Selain menjadi panggung bagi komunitas seni, Plara Fest turut membuka ruang bagi pelaku ekonomi lokal. Sedikitnya 25 pelaku usaha mikro, IKM dan UMKM dari Palabuhanratu dan daerah sekitar, termasuk dari Banten, ikut meramaikan festival.
Wakil Bupati Sukabumi H Andreas mengatakan Palabuhanratu memiliki posisi penting dalam pengembangan pariwisata Kabupaten Sukabumi. Kawasan ini menjadi gerbang Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark dengan kekuatan alam, budaya, dan warisan geologi yang menjadi modal utama pariwisata daerah.
Wabup berharap Plara Fest tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi mampu memperkuat citra Palabuhanratu sebagai salah satu destinasi unggulan Jawa Barat.(Red).
Bid IKP/Diskominfosan
www.satelitnusantara.news