Untuk mendukung penggunaan internet secara bijak, sekolah menerapkan sejumlah langkah, salah satunya membatasi penggunaan HP. Perangkat tersebut diarahkan untuk mendukung kegiatan literasi dan pembelajaran.
“Kita juga di sekolah ada namanya pembatasan penggunaan HP. Jadi HP digunakan hanya untuk literasi. Kalau anak dibebaskan bisa ke mana-mana, bisa game, bisa scroll-scroll, bisa TikTok-an dan lain-lain. Yang belum tentu bahwa hal tersebut bermanfaat,” tuturnya.
Ahmad menilai, edukasi dari pemerintah dan sekolah perlu berjalan beriringan. Pendampingan kepada siswa tidak cukup hanya dilakukan melalui sosialisasi, tetapi juga perlu diterapkan dalam keseharian.
Ia juga mengingatkan siswa agar berhati-hati dalam membagikan data pribadi, foto, maupun kode OTP di internet.
“Terus ada lagi menjaga privasi, data pribadi, OTP, foto, itu harus hati-hati untuk memposting. Karena itu ada implikasinya,” terangnya.
Ahmad menggambarkan tantangan bermedia digital saat ini dengan pepatah yang disesuaikan dengan kehidupan anak-anak.
Kalau dulu kan mulutmu harimaumu, kalau sekarang jarimu harimaumu. Bisa saja kita dengan tidak bijaksana menggunakan internet atau gadget bisa menimbulkan masalah hukum,” sebutnya.
Edukasi tersebut mendapat respons positif dari para siswa. Zahra Budiman (12), salah satu peserta, mengaku mendapat pemahaman mengenai pentingnya menggunakan media sosial secara bijak.
“Dapat materi untuk tidak menonton video-video jorok, dan tidak mengata-ngatai nama orangtua, dan tidak membully, dan menggunakan media sosial dengan bijak,” ujarnya.
Siswa lainnya, Riko Putra Aditya (13), berharap edukasi seperti ini dapat membantu mengurangi perundungan di dunia maya.
“Semoga ke depannya makin berkurangnya cyberbullying,” tutupnya.(Red).
www.satelitnusantara.news