Bogor || Satelit Nusantara
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, Bayu Ramawanto, mengatakan trayek tersebut belum bersifat permanen. Pemerintah daerah, kata dia, masih menghitung kebutuhan layanan sekaligus mengukur minat masyarakat.
“Ini masih uji coba. Kami ingin melihat respons masyarakat serta menghitung kebutuhan operasional sebelum diputuskan menjadi layanan tetap,” ujar Bayu, Sabtu, 4 April 2026.
Trayek yang diuji melintasi sejumlah kawasan strategis, mulai dari Terminal Bojonggede, Cibinong, pusat pemerintahan Tegar Beriman, hingga Sentul. Rute ini dirancang terhubung dengan simpul transportasi lain, termasuk Stasiun Bojonggede yang melayani KRL.
Skema BTS merupakan model layanan berbasis subsidi pemerintah, di mana operator dibayar berdasarkan standar pelayanan, bukan jumlah penumpang.
Pemerintah berharap pendekatan ini dapat meningkatkan kualitas layanan angkutan umum yang selama ini dinilai belum terintegrasi.
Namun, penerapan skema tersebut tidak lepas dari sejumlah catatan. Selain membutuhkan dukungan anggaran yang berkelanjutan, skema BTS juga berpotensi menimbulkan gesekan dengan angkutan kota (angkot) yang telah lebih dulu beroperasi di jalur serupa.
Sejumlah pengamat transportasi menilai, keberhasilan uji coba ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi pemerintah daerah dalam melakukan evaluasi berbasis data. Tanpa perencanaan matang, skema BTS berisiko menjadi proyek subsidi tanpa dampak signifikan terhadap perbaikan layanan.
Di sisi lain, integrasi antarmoda dan kepastian jadwal menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terjawab dalam tahap uji coba ini.Jika tidak dikelola dengan baik, upaya modernisasi transportasi berpotensi berhenti pada tataran wacana.
Pemkab Bogor menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh selama masa uji coba berlangsung sebelum memutuskan kelanjutan trayek tersebut.
Red
www.satelitnusantara.news